Artikel Gratis Buat Kamu

Tokoh Perintis Geguritan


Artikel Terkait dengan Tokoh Perintis Geguritan

Geguritan (berasal dari bahasa Jawa Tengahan, kata dasar: gurit, berarti "tatahan", "coretan") merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa dan Bali.

Geguritan berkembang dari tembang (yaitu lirik/sajak yang mempunyai irama nada sehingga dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai lagu. Kata tembang berasal dari bahasa Jawa yaitu tembang. Salah satu tembang yang paling populer di masyarakat adalah tembang-tembang macapat), sehingga dikenal beberapa bentuk geguritan yang berbeda. Dalam bentuk yang awal, geguritan berwujud nyanyian yang memiliki sanjak tertentu. Di Bali berkembang bentuk geguritan semacam ini. Pengertian geguritan di Jawa telah berkembang menjadi sinonim dengan puisi bebas, yaitu puisi yang tidak mengikatkan diri pada aturan metrum, sajak, serta lagu.

Geguritan merupakan salah satu penciri sastra Jawa Modern yang sangat berkembang, diajarkan di sekolah-sekolah dan kerap dilombakan.

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi.
Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan.
Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa.

Daftar Karya Sastra
Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880
Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913
Ratu, Krishna Mihardja, 1995
Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet
Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004
Pagelaran, J. F. X. Hoery
Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

PARA PENGARANG SASTRA JAWA

SUPARTO BRATA
Suparto Brata, kelahiran Surabaya, 27 Februari 1932 ini sering menggunakan nama samaran Peni, Eling Jatmiko, Tera, dan M. Sholeh. Ia lahir dari pasangan Bendara Raden Ajeng Jembawati (Keturunan Paku Buwono V) dan Raden Suratman yang berasal dari Surakarta.

SURIPAN SADI HUTOMO
Suripan Sadi Hutomo, lahir di Blora pada tanggal 5 Februari 1940 (meninggal dunia pada tanggal 19 Juni 2001). Beliau sering disebut sebagai HB Jassin-nya sastra Jawa karena aktivitas kritik sastra Jawanya di berbagai majalah berbahasa Jawa, seperti Jayabaya, Panjebar Semangat, Djaka Lodang, Mekarsari, Kumandhang, dan Dharma Nyata serta ketekunannya dalam mendokumentasikan karya sastra Jawa tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh HB Jassin terhadap sastra Indonesia.

DJAJUS PETE
Djajus Pete, lahir di desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada tanggal 1 Agustus 1948. Djajus saat ini tinggal di Jalan Tambangan II/203, Purwosari, Kabupaten Bojonegoro. Dalam karya-karyanya Djajus sering menggunakan nama samaran Djajus Pete. Tidak ada alasan khusus dari Djajus, mengapa ia menggunakan nama itu.

SUHARMONO KASIJUN
Suharmono Kasijun, lahir di Ponorogo, 19 Maret 1953 ini sering menggunakan nama samaran Anam Rabus. Ia menyelesaikan SR (1960 – 1966), SMP (1967 – 1969) di Ponorogo, sedangkan SMAnya (1970-1973) dilalui di tiga kota yaitu Ponorogo, Madiun dan Surabaya.

WIDODO BASUKI
Widodo Basuki, lahir di Trenggalek pada tanggal 18 Juli 1967. Ia termasuk pengarang sastra Jawa yang produktif. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media berbahasa Jawa, seperti Penjebar Semangat dan Jaya Baya. Meskipun lebih dikenal sebagai penyair, Widodo Basuki juga menulis cerpen, esai, drama, cerita bersambung, dan cerita rakyat untuk anak-anak. Ia sering diundang untuk membacakan puisi-puisinya, terlibat dalam pementasan drama, dan menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan sarasehan. Dalam tulisannya, kadang-kadang ia menggunakan nama Liesty W, W. Basuki, dan Widodo B.
Ia adalah anak ke-5 dari delapan bersaudara. Ibunya bernama Asilah dan ayahnya bernama S. Muchtarom. Ia berasal dari etnis Jawa dan beragama Islam.

BONARI NABONENAR
Bonari Nabonenar, lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek pada tanggal 1 Januari 1964. Bonari, termasuk pengarang dwibahasa dan cukup produktif. Ia tidak hanya menulis puisi atau cerpen, tetapi juga artikel, esai, anekdot, dan novelet yang ditulis dengan menggunakan media bahasa Jawa dan Indonesia. Karya-karyanya dipublikasikan melalui media, seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, Merdeka, Bernas, Suara Merdeka, Wawasan, Surya, Jawa Pos, dan Surabaya Post. Bonari menganggap bahwa bahasa adalah alat yang dapat digunakan untuk mengekpresikan ide dan gagasannya. Ia mengibaratkan menulis seperti menanam benih padi, yaitu di tanam di media yang tepat. Begitu pula dengan ide dan gagasannya yang juga harus diekpresikan dengan bahasa yang tepat.

ST. IESMANIASITA
St. Iesmaniasita, lahir di desa Terusan, Mojokerto, 18 Maret 1933; dengan nama Sulistyo Utami Djojowisastro. Pengarang ini serba bisa dan sangat produktif. Karyanya berbentuk cerita pendek, cerita bersambung, drama, dan puisi. Karya puisinya lebih dari 500 judul, cerpennya lebih dari 100 judul, dan cerita bersambungnya lebih dari 10 judul. Karya-karyanya itu terbit di berbagai media seperti Jayabaya, Panjebar Semangat, Crita Cekak, Mekarsari, Djaka Lodang, Candra Kiranan, dan Waspada. Pada umumnya, karya-karyanya telah diterbitkan, baik dalam terbitan sendiri maupun dalam antologi bersama pengarang lain. Sebagai penyair, St Iesmaniasita dianggap memelopori penulisan puisi bebas dalam sastra Jawa, baik dari segi struktur maupun bahasa. Sebagai cerpenis, ia juga dianggap telah mengawali penulisan cerpen supranatural (menyatukan dunia nyata dan dunia fana).

SRI 'TRINIL' SETYOWATI
Trinil, lahir di Surabaya tanggal 27 Juli 1965 dengan nama Sri Setyawati, termasuk sebagai pengarang generasi muda sastra Jawa. Meskipun tergolong baru, dia banyak dibicarakan karena dianggap memelopori penulisan karya sastra dengan ragam dialek Suroboyo-an, khusunya dalam genre puisi.
Trinil anak ketiga dari empat bersaudara, dua perempuan dan dua laki-laki. Trinil berasal dari suku Jawa dan beragama Islam.

J.F.X HOERY
Nama panjangnya Joseph Fransiscus Xaverius Hoery, yang kemudian disingkat JFX Hoery ini, lahir di desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan pada tanggal 7 Agustus 1945 ini dapat dikatakan sebagai salah satu ikon sastra Jawa di Bojonegoro. Pemeluk agama Katholik ini mulai menulis sejak berusia 14 tahun, ketika karya pertamanya dimuat di salah satu majalah yang berbahasa Jawa Taman Putra pimpinan Pak SIN (Soebagijo IN) terbitan Panjebar Semangat, Surabaya tahun 1959

Karya sastranya berupa geguritan
“Kali Grindulu” (Panjebar Semangat tahun 1971), (2) “Sugeng Esuk Surabaya” (Panjebar Semangat No. 42 tanggal 10 Nopember 1972), (3) “Pacitan” (Panjebar Semangat), (4) “Sungapan Pacitan” (Kumandhang No. 115 Minggu III Januari 1976), (5) “Tlatah Rengka” (Kumandhang No. 20 tanggal 23 Maret 1074), (6) “Napas-napas Talatah Cengkar” (Dharma Nyata No. 163 Minggu IV Juli 1974), (7) “Cirebon” (Kumandhang No. 1 Minggu III Maret 1975), (8) “karangpacar” (Panjebar Semangat No. 21 tanggal 24 Mei 19750, (9) “Baureno” (Dharma Nyata No. 207 Minggu I Juni 1975), (10) “Wadhuk Leran” (Dharma Nyata No. 207 Minggu I juni 1975), (11) “Kabar Saka Desa” (Dharma Nyata No. 249 Minggu IV Maret 1976), (12) “Madiun” (Djaka Lodang No. 303 Minggu IV Mei 1977), (13) “Ing Sasonomulyo Aku”, (14) “Kayangan Api” (Djaka Lodang No. 341 tanggal 5—15 Mei 1978), (15) “Ing Gegere Gunung Cerme” (Djaka Lodang No. 341 tanggal 5—15 Mei 1978), (16) “Cepu” (Djaka Lodang No.348 tanggal 25 Juli 1978), (17)”Padangan” (Djaka Lodang No. 348 tanggal 25 Juli 1978),(18)”Alun-Alun Bojinegoro” (Panjebar Semangat No. 30 tanggal 28 Juli 1979), (19 “Dakcethet Ing Banjarjo 22” (Panjebar Semangat No. 37 tanggal 15 September 1979), (20) “ Pacitan Cepu Aku Ketemu” (Djaka Lodang No. 349 tanggal 15 Desember 1979), (21) “Alun-Alun Bojonegoro 1982” (Jaya Baya No. 23 tanggal 16 Februari 1983), (22) “Trotoar” (Parikesit No.481 tanggal 4 aApril 1982), (23) “Kenjeran Tugu Pahlawan” (Parikesit No.558 tanggal 25 September 1983), (24) “Gunung Sewu” (Parikesit No.585 tanggal 3 Desember 1983), (25) “ Alas Roban” (Jaya Baya No. 22 tanggal 29 januari 1984), (26)”Angin Padesan” ( Mekarsari No. 11 tanggal 1 Agustus 1985), (27)”Taman” (Jaya Baya No. 28 tanggal 9 Maret 1986), (28)” Sengkaling” (Djaka Lodang No. 740 tanggal 22 November 1986), (29) “Selekta” (Djaka Lodang No. 740 tanggal 22 November 1986),(30) ”Blitar “, (31) “Tarub” (Panjebar Semangat No.17 tanggal 22 November 1987), (32) “Srengenge Mlethek Ing barehan” (Panjebar Semangat No. 14 Tanggal 4 April 1987), (34) “Pacitan kang Dakkangeni” (Jaya Baya No. 2 tanggal 6 Maret 1988), (35) “Bumi Kelairan” (Panjebar Semangat No. 24 tanggal 2 April 1988), (36) “Sadawaning dalan Pacitan-Tegalombo” (Jaya Baya No. 1 tanggal 4 September 1988), (37) “Bojonegoro” (1982), (38) “Sugeng Keri pacitan” (1989), (39) “Punung”(1989), (40 “Yogya” (1989, (41 “Teleng ( Panjebar Semangat No. 48 tanggal 27 November 1933), (42) “Sungapan Lorok”, (43) “Bandar” (Panjebar Semangat No. 34 tanggal 20 Agustus 1995), (44) “Cilacap” (Panjebar Semangat No. 7 tanggal 14 Februari 1988), (45) “Stasiun Purwokerto” (1997), (46) “Baturaden” (1997), (47) “Tlatah Rengka” (Kumandang No. 20 tanggal 23 Maret 1974), (48) “ Panalangsa” (Kumandang No. 22 tanggal 6 April 1974), (49) “Aku Ora Kuwawa” ( kumandang No. 43 tanggal 31 Agustus 1974), (50) “Kapang” (Kumandang No. 52 tanggal 2 November 1974), (51) “Prawan Sunthi” (Dharma Nyata Minggu II April 1974), (52) “Panglocita” (Panjebar Semangat No. 44 tanggal 2 November 1974), (53) “Pangrasa”, (54) “Jaran Guyang” (Djaka Lodang No. 242 Minggu IIIMaret 1976), (55) “Salam Kagem Sliramu” (Panjebar Semangat No. 23 tanggal 5 Juni 1976), (56) “Sliramu Kang Anguwuh Kapang” (Dharma Nyata No. 305 Minggu IV 1977), (57) “Tumenga” (Djaka Lodang Minggu IV Mei 1977), (58) “Sliramu Wis Tinimbalan Bali” (Dharma Nyata No. 280 Minggu IV Oktober 1976), (59) “Sepi” (Lintang-lintang Abyor, 1983), (60) “Antarane aku Lan Sliramu” (Djaka Lodang No. 354 tanggal 25 September 1978), (61) “Ballada Wong-wong Pengeboran” (Jaya Baya 1980): Pemenang II penelitian geguritan Javanologi tahun 1980, (62) “Esem” (Djaka Lodang No. 479 tanggal 21 Nopember 1981), (63) “Swara Ing Batin Swara Ing Asepi” (1982), (64) “ Rembulan Leledhang” (Jaya Baya No. 36 tanggal 8 Mei 1983), (65) “Ing Atiku Ing Atimu” (Parikesit No. 541 tanggal 29 Mei 1983), (66) “Apa Maneh Sing Mboklari” (Parikesit No. 541 tanngal 29 Mei 1983), (67) “ Gumalewang” (1985), (68) “Koncatan” (Jaya Baya No.46 tanggal 13 Juli 1986), (69) “Tumpak” (Panjebar Semangat No. 19 tanggal 9 Mei 1987), (70) “Saka Kedheping Netramu” (Panjebar Semangat No. 10 tanggal 5 Maret 1988), (71) “ Sugeng Tindak Mitra” (Djaka Lodang No. 816 tanggal 7 Mei 1988), (72) “Tumibal” (Djaka Lodang No. 816 tanggal 7 Mei 1988), (73) “Ambyar” (Panjebar Semangat No. 1 tanggal 30 Desember 1989), (74) “ Dakantu Tekane Kabar Ing Mangsa Iki” (Jaya Baya No. 9 tanggal 29 Oktober 1988), (75) “Kaca” (Panjebar Semangat No. 1 tanggal 30 Desember 1989), (76 “ Kasmaran” (Panjebar Semangat No. 49 tanggal 4 Desember 1993), (77) “Pendhut” (Djaka Lodang No. 48 tanggal 27 April 1996), (78) “Kemrungsung” (Jaya Baya No. 31 tanggal 5 April 1998), (79) “ Wengi Pangumbaran” (Mekar Sari No. 22 tanggal 15 Januari 1982), (80) “Keblat” (Jaya Baya No. 41 tanggal 9 Juni 1991), (81) “Slenca” (Jaya Baya No. 8 tanggal 24 Oktober 1993), (82) “Kasaguhan” (Djaka Lodang No. 20 tanggal 15 Oktober 1994), (83) “Kelangan” (1993), (84) “Nglenggana” (Jaya Baya No. 4 tanggal 25 September 1994), (85) “Pamrih” (Jaya Baya No. 5 tanggal 11 Oktober 1995), (86) “Wis Samesthine” (Panjebar Semangat No. 38 tanggal 23 September 1995), (87) “Aku Iki” (Jaya Baya No. 5 tanggal 11 Oktober 1995), (88) “Ora Perlu Ditangisi” (Jaya Baya No. 24 tanggal 15 Februari 1998), (89) “Mega Putih” (Panjebar Semangat No. 6 tanggal 7 Februari 1998), (90) “Pahargyan” Dharma Nyata No. 73 Minggu III Oktober 1972), (91) “Upeti” (Kumandhang 1973), (92) “Penget” (Dharma Kandha No. 220 Minggu III Januari 1974), (93) “Aku Ora Kuwawa” (Kumandhang, No. 43 tanggal 31 Agustus 1974), (94) “Monumen” (Kumandhang, No. 37 tanggal 20 Juli 1974), (95) “Pragmen” (Mekar Sari No. 22 tanggal 15 Januari 1982), (96) “Perkutut” (Djaka Lodang No. 205 Minggu I Juli 1975), (97) “Penggurit Wis Dhek Wingi Mardika” (Dharma Nyata No. 212 Minggu II Juli 1975), (98) “Layang Kekancinagn” (Dharma Nyata No. 227 Minggu IV Oktober 1975), (99) “Sadurunge Sirine Mecah Ombak” (Jaya Baya No. 38 tanggal 23 Mei 1976), (100) “Panantang” (Jaya Baya No. 38 tanggal 23 Mei 1976), (101) “Apa Abamu Panggurit” Kumandhang, No. 136 Minggu II Juni 1976), (102) “Biwara” (Dharma Nyata No. 305 Minggu IV April 1977), (103) “Atiku Lan KArepmu” (1977), (104) “Patembayan” (Kumndhang No. 204 tanggal 21 November 1977), (105) “Simbah” (Djaka Lodang No. 381 tanggal 5 julli 1978), (106) “Layang –I” (Mekar Sari No. 8 tanggal 15 juni 1978), (107) “Layang –II” (Mekar sari No. 8 tanggal 15 Juni 1978), (108) “Kang Diarep” (Dharma Nyata No. 378 Minggu III September 1978), (109) “Ing Mburine Redaksi” (Jaya Baya, 1968), (110) “Pranyatan” (Djaka Lodang No. 365 tanggal 25 Januari 1979), (111) “Lhadallah” (Djaka Lodang No. 383 tanggal 25 Juli –5 Agustus 1979), (112) “Prasetya” (1982), (113) “Trotoar” (Parikesit No. 481 tanggal 4 April 1982), (114) “Pangruwat” (Jaya Baya No. 47 tanggal 22 Juli 1984), (115) “Waris” (Mekar Sari No. 31 tanggal 27 September 1989), (116) “Tuntutan Jaman Edan” (Jaya Baya No. 19 tanggal 5 Januari 1986), (117) “Iki Dudu Layang Panantang” (Jaya baya No. 2 tanggal 6 September 1987), (118) “Iki Layang Kangenku” (Djaka Lodang No. 834 tanggal 10 September 1988), (119) “Senthir” (Djaka Lodang No. 840 tanggal 22 Oktober 1988), (120) “Panggah” (Panjebar Semangat No. 10 tanggal 4 Maret 1989), (121) “Sketsa” (Panjebar Semangat No. 16 Tanggal 15 April 1989), (122) “Panandhang” (1988), (123) “Jingklong” (1989), (124) “Paseksen” (1988), (125) “Kaca” (Panjebar Semangat No. 1 anggal 30 Desember 1989), (126) “Dongeng” (1989), (127) “Paseksen Panggurit” (1990), (128) “Aja” (Jaya Baya No. 7 tanggal 17 OKTOBER 1993), (129) “Kelangan” (1993), (130) “Srakah” (Panjebar Semangat No. 49 tanggal 4 Desember 1993), (131) “Panggresah Ing Tengah Sawah” (Jaya Baya No. 26 tanggal 27 Februari 2000), (132) “Tekamu” (Panjebar Semangat No. 35 tanggal 2 September 1995), (133) “Kendhang” (Jaya Baya No. 29 tanggal 17 Maret 1996), (134) “Sing Katon Kae” (Djaka Lodang No. 25 tanggal 10 November 1996), (135) “Refleksi Kesunyatan” (Panjebar Semanagt No. 14 tanggal 1 April 2000), (136) “Panggugat” (Panjebar Semanagt No. 37 tanggal 13 September 1997), (137) “Kemrungsung” 9Jaya Baya No. 31 tanggal 5 April 1998), (138) “Pagelaran” (Jaya Baya No. 7 tanggal 11 Oktober 1987), (139) “Iman” (Dharma Nyata No. 253 Minggu III April 1976), (140) “Komuni” (Dharma Nyata No. 253 Minggu III April 1974), (141) “Salip” (Dharma Nyata No. 253 Minggu III April 1974), (142) “Natal” (Dharma Nyata No. 288 Minggu IV Desember 1976), (143) “Yerusalem” (Dharma Nyata No. 310 Minggu IV Mei 1977), (144) “Slogan” (Dharma Nyata No. 310 Minggu IV Mei 1977), (145) “Paskah” (Kumandhang No. 204 tanggal 21 November 1977), (146) “Gemothange Lonceng Sangisore Kayu Pamenthangan” (1982), (147) “Ing” (Jaya Baya No. 44 tanggal 1 juli 1984), (148) “Ing Astamu Rinakit Gurit” (Jaya Baya No. 17 tanggal 23 Desember 1984), (149) “Kapangku” (Panjebar Semangat No. 9 tanggal 1 Maret 1986), (150) “Sapa Ta” (1986), (151) “Pasrah” (Panjebar Semangat No. 27 tanggal 5 Juli 1986), (152) “Manunggal” (Panjebar Semangat No. 27 tanggal 5 Juli 1986), (153) “Donga Pungkasan” (Djaka Lodang No. 735 tanggal 18 Oktober 1986), (154) “Menep” (Panjebar Semangat No. 19 tanggal 19 Mei 1987), (155) Sumendhe” (Panjebar Semangat No. 38 tanggal 19 September 1987), (156) “Ing Rasa RasaMu” (Jaya Baya No. 6 tanggal 4 Oktober 1987), (157) “Saka Kedheping NetraMu” (Panjebar Semanagt No. 10 tanggal 5 Maret 1988), (158) “Lintang” (Panjebar Semangat No. 10 tanggal 5 Maret 1988), (159) “Saka Altar Greja Tuwa” (Jaya Baya No. 23 tanggal 31 Januari 1988), (160) “Donga Wengi” (Panjebar Semangat No. 9 tanggal 25 Februari 1989), (161) “Palungan” (1989), (162) “Pitakon” (Panjebar Semangat No. 10 tanggal 3 Maret 1989), (163) “Ing Kene getihmu” (1989), (164) “Roh” (Jaya Baya No. 41 tanggal 10 Juni 1990,(165) “Saka Asihmu” (Jaya Baya No. 41 tanggal 10 Juni 1990, (166) “Suwung” (Djaka Lodang No. 1073 tanggal 10 April 1993), dan banyak lagi.***

Pêlopor Puisi Jawa Modèrn
Pêlopor puisi Jawa modèrn iki yaiku R. Intoyo lan Subagiyo Ilham Notodijoyo. Sakliyané R. Intoyo lan Subagiyo Ilham Notodijoyo, pênulis-pênulis puisi modèrn sing wiwitan yaiku:

Mulyana Sudarsana
Rakhmadi K.
Iesmaniasita
Lesmana Purbakusuma
Ismail
W. Santosa

Pênulis gênêrasi sakwisé ing ndhuwur, yaiku:

Esmiet
Tamsir A.S.
Basuki Rakhmat
N. Sakdani
Trim Sutija
Suyana
T.S. Argarini
Muryalelana
Djaimin K
Maryuni Purba

Puisi Jawa modèrn saya suwe sangsaya ngrêmbaka lan tambah produktif wiwit lairé angkatan 66 sing dipêlopori déning Grup Diskusi Sastra Blora. Pênulis gênêrasi iki yaiku:

Poer Adhié Prawata
Ngalimu Anna Salim
Anjrah Lelana Brata
T. Susila Utama
Sri Setya Rahayu
Sukarman Sastradiwirja
J.F.X. Hoeri
Jayus Pete
Sudar Wiwaha
Suripan Sadi Hutomo
Mokh. Nursyahid P.
Arswendo Atmowiloto
Jaka Lêlana
Suwaji
S. Warsa Warsadi
Hartana Kadarsana
Ardian Syamsudin
Slamet Iskandar
M. Tayib Muryanto
Ari Hartini
Arièsta Widya

Para pênyair Angkatan 66 akeh-akehe ora mung nulis puisi, nanging uga nulis crita cekak, novel, lan esai babagan sastra Jawa

Description: Tokoh Perintis Geguritan Rating: 5.0 Reviewer: Eri ItemReviewed: Tokoh Perintis Geguritan


Artikel yang mirip:



Gali lebih banyak tentang Tokoh Perintis Geguritan
0 Komentar untuk "Tokoh Perintis Geguritan"
Back To Top