Artikel Gratis Buat Kamu

Kumpulan Puisi dengan tema Cinta Tanah Air


Artikel Terkait dengan Kumpulan Puisi dengan tema Cinta Tanah Air

Puisi dibawah ini adalah kumpulan puisi yang di ambil dari berbagai sumber, semua puisi dibawah ini adalah ungkapan perasaan sang pembuat puisi perasaan kecintaanya terhadap tanah air indonesia dan harapan akan kemakmuran negeri tempat kelahirannya taitu Indonesia

Silahkan baca dan hayati puisi dibawah ini yang bertemakan cinta terhadap tanah air.


Tetaplah Tersenyum Indonesiaku
Tak ada tanah sekaya dirimu
Tak ada air sebening hatimu
Karna engkau tanah air, Indonesiaku
Merahmu membawa semangat dalam hidupkuDan putihmu memberi kedamaian
Engkau adalah kebanggaanku
Budaya nan rupawan menjadi cermin hatimu
Beragam suku, tetap menjadi satu
Karna Bhineka Tunggal Ika adalah semboyanmu
Namun kebanggaan itu mulai rapuh
Hati ini mulai menangis
Melihat, hijaumu mulai gersang
Sejukmu mulai panas
Dan kedamaianmu mulai terusik
Oleh tangan-tangan nakal anak bangsamu sendiri
Mereka mulai tak menghargaimu
Melupakan jasa-jasamu
Dan tak mau mengenal sejarahmu
Namun tetaplah tersenyum Indonesiaku
Walaupun ragamu telah tersakiti
Namun tetaplah jiwamu memberikan semangat
Bagi kami, anak-anak Indonesia
Febriany Puji Astuti
13
XI IPA 2

CAHAYA CAHAYA
(Oleh : Siti Nur Hidayati)
Kau hadir dikedalamanku
Ketika gelap menyergap relungku
Pengap tak tahu kemanapun arah
Serasa ada sembilu menghujam
Mengiris perih ke relung rasa
Mengapa…………………………. ?
Tak kuasa aku menolak
Tak sampai aku meraih
Kulihat nyalaMu abadi di singgasana tertinggi
Berpijar hingga tembus di kegelapan penjuruku
Aku terpana…………………………
Ku lihat jelas batin yang keruh
Di situ ada buih-buih kotor!
Mengalir keluar dari hati cela
Itu buih takabur ………….!
Itu buih dusta ……………..!
Itu buih ria …………………!
Itu buih dengki ……………!
Itu buih dendam ………….!
Buih-buih itu terus berurai
Nafasku telah tercekat sesak
Penyakit hati itu meradang
Aku tak berdaya
Terkapar di titik terendah
Lemah ………….!
Papa ……………..!
Hina ……………..!
Jangan bicara salah
Jangan bicara dosa
Biarkan hening sunyi
Biarkan sendiri
Di situ ada taman kedamaian
Tempat aku mencari aku
Dalam pergulatan tanya berjawab
Aku muncul hilang berganti aku
Berjalan seiring denyut
Detak-detak semakin cepat
Hingga letih ronggaku k o s o n g
Aku sebut A S M A M U
A l l a h u A k b a r ………….. !
Bergama di seluruh penjuru ronggaku
A l l a h u A k b a r ………….. !
Berkumandang mengisi ruangku
A l l a h u A k b a r ………….. !
Cahayua itu terang benderang
A l l a h u A k b a r ………….. !
Cahaya itulah Cahaya
A l l a h u A k b a r ………….. !
Cahaya segala cahaya

Takkan kutukar cinta padamu, bunda pertiwi
Satu;
Hari ini
catatan cinta kueja tadi malam, bunda
ketika terdampar pada resah
tanahku
seolah jerit bumi berteriak
minta tolong pada penghuninya
yang tak peduli
tetap tergesa-gesa
kesana kemari memperkosa dirimu yang semakin tua
meratakan hutan jadi tanah kering
menuangkan banjir, menyisakan kerontang bergantian
asap kebakaran racun timbal tak cukup mencemari
bertambah intensitas hari ke hari
mereka menodai lautmu, sungaimu dengan racun kimia
membotaki gunung-gunung
melobangi tubuhmu seperti bopeng-bopeng bulan
mengerikan!
(sungguh aku tak ingin jadi mereka!)
mereka
memperebutkan apa saja dengan loba
tamak menginjak-injak yang kalah
si miskin, si melarat,
sengsara
mengais-ngais sisa remah
disudut-sudut kota yang sesak
berhimpitan berbagi ruang sempit
di desa petani-petani kehilangan sawah
menangis kalah
ada anak yang mati kelaparan, kata media
“hanya sebuah kabar, tak perlulah dibesar-besarkan,”
kata orang itu, entah siapa
datang dalam mimpiku menjijikkan
melubangi lumbung pertiwi tercabik-cabik menyeramkan
aku terpelanting
pada realita
pening
kuheningkan hati mencari jawab
belum bisa banyak berbuat
masih terbatas mencoba
berbagi yang tak berlimpah,
dan harapan, Tuhan pasti cukupkan untuk mereka
tak sanggup kusaksikan bening mata bocah menangis
berkaca-kaca menahan lapar.
Dua;
Dulu
menelusuri jejak cinta padamu pertiwi
apakah cinta mesti menuangkan darahku dalam perang?
aku hanya punya perang melawan diri
sejak dini
walau hanya bertahan tak menyontek waktu ujian kala remaja
biarlah nilaiku jeblok
tapi aku tak goblok, bunda
kubaca jejakku pada cinta:
dimana cinta diuji?
ketika kau mampu menolak amplop tebal dihadapanmu
mencoba membeli kejujuran
padahal kebutuhanmu menderu-deru
kapan kesetiaan terbukti?
ketika nafsu memburu-buru
ingin memiliki yang bukan milikmu
kau memilih siksa.
ketika perawan rela menukar cinta demi sekedar bedak lipstik
menjual cinta pada bandot tua demi materi
kau memilih menderita.
kubaca lagi jejak dimana cinta pernah tertoreh
di Aceh, di Aceh!
kutahankan cinta di tengah ledakan bom, hujan peluru menderu-deru
ketakutan, darah dan trauma,
takkan kutinggalkan bunda pertiwi
mendesah di tiap doa, janganlah negeriku terpecah-pecah
damai-damailah, jangan hanya dalam mimpi
sampai aku lelah
kehilangan kata. doa terhenti
dalam hening mengeja cintaNya
lalu ombak yang menghempas, mencipta neraka di hadapanku
terpana membaca kehendakNya
kucoba lagi menghayati cinta
tetap kucinta kau
sebab kurasakan tangismu bunda
perih, perih menyayat hati
dikhianati anak-anak sendiri
kekasih jiwa.
Tiga;
Di hati, sekarang
meski terbatas di pikir dan zikir
kueja namamu dalam kasihNya
semoga tetap bertahan
dari perpecahan oleh tangan-tangan
gergasi, siluman, manusia
yang ingin membelah negeri
yang ingin kau tak ada lagi
menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti
semoga kau bertahan
sebab masih ada anak-anak bumi yang peduli
tersenyum, tersenyumlah bunda pertiwi
meski pahit menggigit hati


Ratapan Senja
Apa yang diperjuangkan, kini dihancurkan
Apa yang dimenangkan, kini dienyahkan
Negeri tercintaku luruh dalam balutan nafas sang waktu
Bar-bar menjadi identitas tersohor bagi bumiku
Semerbak wewangingan damai, tercerabut oleh anyir permusuhan
Etika moral bergelayut di titik nadir
Menanti terperosok…
Negeriku malang, negeriku jalang
Tenggelam dalam kebobrokan mental yang kental
Apa yang ku cinta, kini terbalur rancu
Semua samar…
Kemajuan yang kasat mata,
Hanya bermuara pada barisan pelahap ilegal rupiah berjamaah
Selebihnya,
Tergeletak pasrah pada guratan takdir Hyang Jagat
Bahkan lingkaran cahaya mentari hanya memantulkan semburat nestapa
Tak terelakkan,
Air mata menggantung di pipi bulan
Menangisi alam yang menggerutu tak bersahabat
Negeriku dipenuhi lubang-lubang borok yang tak sempat terjamah
Perut membuncit menjadi pertanda derita, bukan makmur
Sedih…
Miris…
Aku menyaksikan ratapan senja nan malang
Adakah yang masih peduli?
Kemana perginya sang pekerti?
Bahkan seorang pahlawan kesiangan pun enggan turun tangan…
Lakukan sesuatu!!!
Jika kau tak sanggup menjadi sebongkah karang yang kokoh
Jadilah kerikil yang tak bergeming terlindas zaman
Jika kau tak sanggup menjadi khalayak yang bersatu padu
Jadilah sekawanan lebah pekerja yang gencar membela sang ratu
Kayuh seluruh roda cinta sang nurani
Lalu tebarkan ke setiap sudut Ibu Pertiwi
Berikan yang terbaik…
Demi Indonesia maju…

Negeri Sebatas Khayal
Sejauh mata memandang
Tak Kulihat senyum
Elok nan permai
Dari Sang Pertiwi…
Nyanyian-nyanyian alam
Berubah menjadi tangisan
Yang tak berujung…
Ku rindu saat-saat berada
Dalam pangkuanmu…
Membelaiku dalam tidur panjangku…
Memimpikan sebuah negeri
Yang kekal nan damai…
Tak kurasa kini, hanya ada jeritan-jeritan
Membahana…
Menyemarakkan hati
Sekaligus mencengangkannya
Dalam satu euforia…

judul : aku? TKI
kubuka mata kubuka jendela
kulihat indah
wajahmu
menghias hariku
dengan senyum yang makin tak kumengerti
arti
hari ini
hari terakhir aku melihatmu
esok
aku kan pergi
meninggalkanmu
bukan
maksudku tinggalkanmu
inginku dustai cintamu
mungkin semua akan jadi indah
jika aku mampu terimamu apa adanya
jangan
jangan salahkan dirimu
salahkan aku yang tak mampu berikan yang terbaik untukmu
salahkan aku yang tak mampu lakukan yang terbaik untukku
paling tidak
kau masih punya hatiku
paling tidak
ku masih ingat kamu
aku hanya coba teruskan hidup ini
mengais asa demi nikmat dunia
jika kau butuh hadirku
pangil aku
janjiku takkkan jadi orang yang mendurhakaimu
aku akan datang seperti saat dulu
saat aku masih bersamamu
membelamu dari sgala yang merusakmu
oh, negeriku
maafkan aku

judul: Hijau kuning merah dan kelabu warnai bangsaku
karya: Ichsan Gana
Hijau kuning merah dan kelabu warnai bangsaku
Seperti langit
yang tak selalu biru
Awan mulai menghitam
Menutup membuyarkan kesadaran
Suaramu masih riang
Walo tak sedahulu
Kakimu terus melangkah
Langkah lari
nyeri
Dinding rumahmu mulai buta
Tuli
Bisu
tak mampu berpetuah
Caya
Kau masih mampu memelukku

Judul : Bangga (Aku) Jadi Orang Indonesia
Penulis : Lalu Abdul Fatah
Boleh saja Taufik Ismail
Merasa malu jadi orang Indonesia
Merutuk-rutuk seribu dosa
Berjamaah bangsa kita
Namun, aku di sini berdiri
Berikrar segenap-penuh hati
: Bangga aku jadi orang Indonesia.
Boleh saja kita akui
Indonesia keadaannya memang begini
Hancur di segala segi
Namun, tak layak kita pesimis
Berkicau mencela sampai menangis
Berharap Indonesia berhenti diguyur gerimis.
Optimis satu-satunya harapan yang tersisa
‘kan menjadi senjata pamungkas kita
Menatap hari esok yang cerah
Bumi pertiwi yang cantik sumringah.
Lihatlah…
Indonesia sepotong surgaloka nan jelita
Terhampar di sepanjang khatulistiwa
Kaya budayanya
Subur tanahnya
Makmur lautnya
Laksana pelangi aneka rupa
Itulah Indonesia
Membuat iri bangsa lain di dunia.
Boleh saja Taufik Ismail
Merasa malu jadi orang Indonesia
Namun, kita di sini
Mari berjanji segenap-penuh hati
Ikrarkan selalu tiap detak nadi
: Bangga aku jadi orang Indonesia.


Kursi kebatilan dihantam keriuhan batinku
memporak-porandakan revolusi yang memuncak
menghardik bumi pertiwi ini
bencana membuncah bak air yang tak bertepi
Indonesia……
Berteriaklah….
Hingga Riak air menggema
memperkuat tali kemerdekaan
membanggakan tanah hijau yang lapang
Indonesia….
Berkaryalah Hingga gedung kesenian
menjadi warna rupa yang terus terisi
Kecintaan pada kebudayaanku
membuat semangat raksa terus mengepul
Indonesia….
Kibarrkan sang saka
pada tiang keyakinan tertinggi
bersorak bahwa kemerdekaan terus
membahana membawa rakyat tuk trus
mencintai negara ini
Aku cinta Indonesia
sebuah keyakinan yang trus terpatri di dada
yang melekatkan Pancasila sebagai simbol
tanah air…
Proklamasi trus terngiang dimemoarku
membangkitkanku tuk hadapi masa depan…..
Cukup satu kata tuk raih
keberhasilan
Aku Cinta Indonesia…..

Aku Cinta Indonesiaku…
Kursi kebatilan dihantam keriuhan batinku
memporak-porandakan revolusi yang memuncak
menghardik bumi pertiwi ini
bencana membuncah bak air yang tak bertepi
Indonesia……
Berteriaklah….
Hingga Riak air menggema
memperkuat tali kemerdekaan
membanggakan tanah hijau yang lapang
Indonesia….
Berkaryalah Hingga gedung kesenian
menjadi warna rupa yang terus terisi
Kecintaan pada kebudayaanku
membuat semangat raksa terus mengepul
Indonesia….
Kibarrkan sang saka
pada tiang keyakinan tertinggi
bersorak bahwa kemerdekaan terus
membahana membawa rakyat tuk trus
mencintai negara ini
Aku cinta Indonesia
sebuah keyakinan yang trus terpatri di dada
yang melekatkan Pancasila sebagai simbol
tanah air…
Proklamasi trus terngiang dimemoarku
membangkitkanku tuk hadapi masa depan…..
Cukup satu kata tuk raih
keberhasilan
Aku Cinta Indonesia…..
Karya:Novicharullah Arkie

Namai Negara Ini Cinta
Katakan bahwa negara kami negara miskin..
Aku tak pernah malu
Katakan bangsa kami bangsa bodoh…
Aku takkan kecewa
Katakan pemimpin kami tak bermoral..
Aku menerima kenyataan
Jika semua itu membuat kau tertawa
Aku hanya tersenyum
Ini negaraku…
Bagaimanapun kalian mencacinya,
sebenci apapun kalian terhadapnya
Semua cermin kebencianmu…
merefleksikan kecintaanku padanya
Negaraku memang negara miskin..
Kemarin aku menatap bocah kecil lemah
Yang kelaparan namun tertidur…
Kadang ia terbatuk-batuk di sela tidurnya
Dan ia juga menaruh mangkuk kecil di samping tubuhnya
Yang diisikan oleh orang-orang dermawan yang melewatinya
Bukan oleh pelindungnya yang bersembunyi di gedung ber-AC
Bangsaku juga bodoh..
Tetanggaku tak melanjutkan sekolahnya sekalipun ia mampu
Tanpa sadar betapa berharganya pendidikan itu
Tanpa sadar bahwa tak berartinya ia tanpa ilmu
Tanpa sadar betapa bodoh bangsanya…
Tanpa sadar ia menambah bodoh bangsanya itu
Pemimpinku tak bermoral…
Ia yang tertidur di tengah membicarakan rakyatnya
Kalu begitu, apa ia juga mendengar suara rakyatnya?
Apa ia melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati?
Atau hanya ingin mengangkat namanya, lalu korupsi?
Aku tak ingin peduli
Seburuk itukah negaraku?
Tentu saja tidak
Aku terpana melihat candi borobudur sang kejaiban dunia
Aku bangga miliki Habibie yang brilian
Aku senang bisa menari tradisional kala semua gila modern dance
aku bangga… kau mesti tahu itu

Tanya kami padamu
Karya : Shanty
apa yang kau beri selain utang di negeri asing
apa yang kau wariskan selain tingkat ekonomi yang bikin pusing
apa yang kau ceritakan saat ini hanyalah koalisi
konglomerasi, perbudakan politik yang buat rakyat mati berdiri
negeriku, disini dulu ku tumpahkan darahku
disini dulu kami bersatu
disini dulu kami saling membahu
melupakan perbedaan ras, agama dan suku
negeriku, mengapa wajahmu bermuram durja
kenapa tanahmu tak lagi indah
kenapa bumimu kini porak poranda
kenapa manusiamu hanya berebut kekuasaan dan harta
di setiap sudut desa
di setiap sudut kota
masih ada anak-anakmu yang berjuang
berpikir dan mencoba bangkit dari kemelaratan
kau tahu kami disini masih cinta
kami disini masih suka
negeriku satu bernama Indonesia
bhineka tunggal ika

Ini negeriku
baru kemarin kita tertawa
lalu kini kita berduka
baru kemarin kita merdeka
lalu kini kita terjajah
mahasiswa berontak lalu berorasi
wakil rakyat berteriak senang diatas kursi
rakyat kecil menjerit kelaparan
para pejabat kenyang kemewahan
ini negeriku
gemah ripah loh jinawi
ini wakil rakyatku
demi kursi mati hati


Pertiwi
Selama darah masih mengalir,
Selama jantung tetap berdetak,
Di kala surya masih bersinar,
Selama itu pula hati tetap berkobar.
Pertiwi menangis, merintih menahan luka,
Tergores oleh kenangan penyimpan duka,
Di masa abdi tetap terlaksana,
Akan kujaga Ibu Pertiwiku.
Wahai….Putra bangsa……
Sudah tegarkah hatimu berjuang,
Ku lihat malam semakin benderang,
Seiring jiwa yang tak tergoyahkan.
Ibu Pertiwi…..
Tanahmu runtuh menahan derita,
Airmu meluap melepaskan sengsara,
Kini, tanah air berkata,
Dimana sang abdi negara.

judul puisi : * kami pewaris negeri ini *
kami disini…
menatap langit membelah cakrawala tanah air kami
tak apa,
bersandal jepit kami bersekolah
kadang tak beralas ini kaki dengan sepatu model terbaru
melewati tanah basah kaki-kaki kami
dimana tersiram hujan sawah padi menguning
menelusuri ngarai sungai
berlari kami pada tanah pertiwi,hijau menghampar surga hutanku
sesekali menyeka peluh pada wajah
peluh jatuh dari badan karena cinta pada negeri
karena cita-cita tanah air gemilang ada pada puncak jiwa kami
tak gentar kami bila badai hujan menghadang
dimana membasahi baju dan tas terbuat dari anyaman bambu
karena kami tahu membangun tanah air adalah mulia
gunung krakatau menampakan kegagahanya
karang dihantam deburan ombak mengila
tetap kokoh ia berdiri
jiwa semangat ditempa sang guru
agar tak menjadi generasi cengeng
lihat…!
matahari mulai menampakan sinar cahayanya
berlari kita bersama
menuju indonesia bangkit
karena kami pewaris negeri ini.



Description: Kumpulan Puisi dengan tema Cinta Tanah Air Rating: 5.0 Reviewer: Eri ItemReviewed: Kumpulan Puisi dengan tema Cinta Tanah Air


Artikel yang mirip:



Gali lebih banyak tentang Kumpulan Puisi dengan tema Cinta Tanah Air
0 Komentar untuk "Kumpulan Puisi dengan tema Cinta Tanah Air"
Back To Top